KEBUDAYAAN ASLI INDONESIA



KEBUDAYAAN ASLI INDONESIA
Di tengah-tengah perkembangan jaman yang modern dan perkembangan teknologi yang semakin canggih, masih ada sebagian orang yang masih mempertahankan kebudayaan asli Indonesia. Salah satunya adalah kebudayaan menggambar di atas kain putih. Aktivitas tersebut ialah salah satu kegiatan tradisional yang terus dipertahankan supaya tetap konsisten seperti awalnya. Beragam jenis motif gambar dari berbagai daerah, dan warna yang berbeda-beda, namun dalam proses pembuatannya pada dasarnya masih sama. Perlengkapan yang digunakan dalam kegiatan tersebut diantaranya adalah gawangan, wajan, taplak, malam, canting, mori atau kain katun, dan kompor kecil. Dalam proses pembuatan untuk satu produk membutuhkan waktu yang begitu lama, karena dikerjakan secara manual oleh tangan manusia dan disesuaikan dengan tingkat kesulitan motif yang akan dikerjakan.
Salah satu daerah di perbatasan antara Kabupaten Karanganyar dengan Kabupaten Sragen masih ada sebagian orang yang mempertahankan kebudayaan tersebut dengan menggunakan alat canting. Meskipun harus bersaing dengan beberapa pengusaha yang sudah menggunakan alat yang lebih canggih dan proses pembuatan yang lebih cepat. Di Dukuh Grompol ada salah satu ibu-ibu yang sampai sekarang masih mempertahankan kebudayaan tersebut. Namanya adalah ibu Sumiatun. Beliau menekuni pekerjaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keahlian yang dia miliki (sambil menorehkan malam ke kain mori dengan menggunakan canting dan kebulan asap yang keluar dari kompor). Sejak kecil ibu Sumiatun sudah di didik oleh orangtuanya untuk bisa mengerjakan pekerjaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan adik-adiknya yang sedang sekolah. Karena pada zaman dahulu bagi sebagian orang anak perempuan harus bisa mengerjakan pekerjaan itu (sambil menghilangkan tetesan malam yang menempel di kain).
Ibu Sumiatun bisa menggerjakan satu kain yang sudah tersebut membutuhkan waktu sekitar 2-3 hari dan disesuaikan tingkatan kesulitan motif dan panjang kainnya. Proses pembuatan yang cukup lama membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Sehingga, proses awal hingga akhir bisa melibatkan beberapa orang dalam setiap proses. Maka dengan proses pembuatan kain tersebut dengan waktu dan tenaga yang lama, sangatlah wajar jika harga kain tersebut sangat mahal. Beliau biasanya untuk satu kali jadi di beri upah sebesar Rp. 50.000-, (sambil memperhatikan motif dalam kain dan menorehkan malam ke kain) meskipun tidak sepadan dengan usaha yang beliau lakukan ibu Sumiatun tetap masih menekuninya. Ibu Sumiatun biasanya mengerjakan kain tersebut yang kemudian untuk bahan jadinya akan digunakan untuk kemeja atau bawahan yang digunakan oleh para orangtua jaman dahulu.
Biasanya motif yang beliau kerjakan terdiri dari motif sidomukti, truntum, parang, kawung, parangkusumo, wayang, dan motif seperti hewan naga. Terkadang beliau juga mendapat orderan dari mahasiswa jurusan seni untuk mengerjakan pekerjaan memoles kain tersebut (sambil meniup canting agar lubangnya bisa terbuka). Ibu Sumiatun biasanya dalam mengerjakan tugas mahasiswa tersebut tidak pernah mematok tarif. Beliau menerima berapapun yang di kasih oleh mahasiswa, karena dia menyadari bahwa mahasiswa itu uang saku dibatasi oleh orangtuanya.

Comments

Popular posts from this blog

MENGENAL BATIK PEDALAMAN DAN BATIK PESISIR

Sinopsis Film All The President’s Men

PERLUKAN UJIAN NASIONAL DIHAPUSKAN?